oleh Naddia Effendi pada 10 April 2011 jam 12:23
Pergilah saja. Pergilah jauh melampaui kelelahan batin bersama penyakit hatimu. Aku tahu, tidak semua merak merangkai warna dengan estetika mereka. Tidak hanya jagung yang menjadi makanan para unggas. Kau bisa pergi sekarang, membawa rangkaian untai kepalsuan yang kau bangun semegah menara. Kau tancapkan lebih dari kepalsuan biasa di lebih dari seribu malam yang kita lalui. Mati saja! Aku muak memandangi rupamu, orang-orang bodoh mengucapkan seribu elok yang menitik-nitik memulau di tampangmu. Tapi aku, cuih! Tak sudi aku memandangi rupamu nan elok yang dilumuri kemunafikan.
Dilantai ini aku menyudut. Bilik usang ini seolah-olah hidup dan bergerak, bergerak seakan ingin memerkecil diri dan menghimpit aku dan kebencianku. Setiap dinding merasa gerah menahan rasa benci ku yang telah membahana jatuh di dasar kerutan wajah dan tangisku. Tangis itu sudah bersahabat dengan ku sejak aku tertatih belajar melangkah bersama malaikat hatiku. Hampir tiap hari aku menangis. Sampai-sampai aku tak tau, kapan saja aku menangis haru atau aku menangis pilu. Kau saja yang mendampingi malaikat hatiku. Malaikat hatiku beruasaha setia dan menunduk dibawah perintah mu, tapi kau?! Kau tak pantas mendampinginya, setan berakalkan iblis sepertimu pantasnya pergi saja ke kobaran api neraka. Rambut mu menjadi penyulut api disana! Biarkan kulitmu yang kusam penuh dengan bercak dosa mengelupas dan menggosong disana. Hilang saja matamu agar kau tak bisa mencariku jika aku terlambat membuatkan secangkir kopi untukmu! Melenyap saja apa yang ada disamping kanan-kiri kepala mu, daun telinga yang bisa mengetahui raungan tangisku, kemudian ya Tuhan, potong saja tangannya sebelum nanti ia kembali memukuliku, membesatkan kening ku dengan pisau-pisau berkarat yang membuatku meraung pilu... pedih.. sakiiittt! Kau dari jauh tertawa menikmati cairan merah kental mengalir deras dari kepalaku. Jika dalam saat seperti itu, kita seperti berperang. Lewat tatapan tajam mata ku beradu dengan mu. Kali ini yang mati, aku atau kau?! Jika saja harus aku yang mati, aku tak terlalu menolak. Asal saja aku tak memandangi rupa jahanam mu lagi. Aku bisa menemui malaikat hatiku meski harus tertatih menahan pedih siksa alam sebelum aku diperkenankan menemui malaikatku! Tapi, jika kau yang mati! Tak pernah aku mengizinkan mu mencari malaikatku! Menjamah rambut halusnya yang hitam berkilau sebelum kau membakarnya lalu membunuhnya!
Dayeuhkolot-Bandung Selatan, doea poeloeh maret 1946.
Sore pukul empat saja sudah bagai ditelan malam, sepertinya senja sudah kelaparan hingga ia melahap habis terangnya siang dan remang-remang intan pada sore hari. Aku masih seperti hari-hari sebelumnya duduk di tepi jendela rumah ku dan bercerita dengan tirai-tirai lusuh itu. Aku tak mau menangis, meskipun terkadang didepan mata orang-orang bertikai, memperebutkan hal yang seharusnya mereka perjuangkan bersama. Tangan-tangan mereka sudah di rasuki semacam emosi besar, mereka lupa musuh mereka hanya satu. Tetapi mereka terlebih membuat musuh-musuh lain disaat mereka harus bersatu membasmi satu musuh. Ah, persetanlah! Batin ku, lagipula setumpuk masalah masih menemaniku didalam kamar sempit ini yang menghimpit otak dan hati nuraniku ini. Baru saja kemarin aku menangis, melihat orang itu mematikan ibuku. Orang itu tak tanggung-tanggung, ia mencekik ibuku sampai pingsan. Ditariknya aku dan dipertontonkan kepada ku bagaimana cara ia membelah perut ibu ku, dan mengeluarkan seluruh isinya. Kemudian diseretnya keluar dan dibakarnya bersama mayat-mayat yang lainnya. Aku tak bisa berkata-kata, aku hanya menangis dengan berjuta-juta tetes peluh yang membasahi sekujur tubuhku. Bulu kuduk ku merinding, tanganku dingin. Kepala ku serasa mengembang, membesar hingga aku tak memiliki kemampuan lagi untuk mengimbanginya. Aku terhempas jatuh kelantai bersimbah darah itu. Kini wajahku menyatu dalam lautan cairan yang sama dengan yang ada didarahku. Bau amis itu tak tercium olehku, dalam mataku yang terpejam dan hati yang merintih aku berusaha bermimpi agar aku bisa mengumpulkan sisa cairan itu dan membentuk ibu baru yang sama persis seperti sebelumnya. Tapi itu hanya mimpi. Sekedar mimpi. Jauh dari kenyataan.
Orang yang berani membunuh ibu itu adalah ayah! Benar saja, ia memang berhak sepenuhnya atas ibu. Tapi ia tak berhak sama sekali untuk membunuh ibu, karena aku masih memerlukan ibu yang menguatkan setiap langkah-langkah hidupku. Dunia lebih membutuhkan ibu! Ibu sosok wanita yang kuat! Ia menari-nari di atas kekangan seorang suami yang bukan satu mimpi dengannya. Mimpi mereka bertentangan, tetapi sebagai istri ibu selalu melayani ayah dengan baik. Seorang aktivis wanita seperti ibu memang layak menjadi musuh ayah. Tetapi bukankah mereka suami istri yang disatukan dengan pernikahan yang syar’i? hinga akhirnya menghadirkan aku.
“MESKIPUN KAU ADALAH SUAMIKU, AKU TIDAK AKAN SETUJU KAU MENJADIKAN KOTAKU INI SEBAGAI MARKAS STRATEGI MILITER ! Jika kita harus berperang dan berada pada kubu yang berlainan, sampai akhirnya kau harus mengancam kehidupan ku pun bukan masalah besar untukku! Kau dan sebangsa mu sungguh serakah akan kekayaan negeri kami!” ibu berteriak-teriak di ruang depan menatap ayah dengan emosi yang berkobar-kobar. Ayah tak berkata apapun, tetapi ia langsung mengambil tindakan. Ia langsung mematikan ibu seperti binatang kepada musuhnya, mencekik, menjambak, membanting tubuh ibu hingga terdengar suara hempasannya tepat di dinding kamarku bagian luar. Sebelum akhirnya ayah membakar ibu bersama aktivis lainnya. Ayah bukan lagi manusia! Ayah binatang!
Aku memilin-milin rambutku, menatap siang itu mendung dari balik jendela kaca kamarku. Berharap mentari datang menghampiriku dan memancarkan sinarnya, hanya disini. Di dalam kamarku. Biar aku bercerita tentang semua masalah yang menerjang mentalku sebelum akhirnya aku meleleh karena panas dari kemarahan sang mentari. Ya, itu lebih baik, meleleh. Dan mati dengan senyuman yang meleleh pula, hanya ibu dan sang mentari yang tau.
Dayeuhkolot-Bandung Selatan, doea poeloeh empat maret 1946.
“Citra! Citra!” ada yang menggedor jendela kamarku. Malam itu seingat ku baru pukul 00.13 menit. Orang itu seperti menginginkan diriku segera keluar dari mimpi indah ku, dan kembali untuk dunia yang memuakkan ini. Aku melengos kesal dan bangun dari kasur yang sedari kemarin masih berlumuran darah dari pelipis ku, karena besi karatan dari gudang belakang yang ayah keratkan tepat dipelipisku. Peristiwa itu baru saja kemarin, tapi aku sudah lupa bagaimana rasa sakitnya. Jadi, tolong jangan pertanyakan apapun.
Aku membuka pintu dan menemukan bagus ada diluar. Aktivis muda yang sempat diperkenalkan ibu kepada ku. Ibu bangga kepada bagus karena ia aktivis yang hebat. Ia tidak pernah setengah-setengah dalam menghalangi penjajah yang masuk ke Indonesia ini. Bagus seumur dengan ku, tetapi pemikirannya jauh lebih dewasa dariku. Bagus pernah berkata kepadaku bahwa ia mencintaiku, karena namaku. Citraresmi, nama pemberian ibuku. Ibu juga pernah berkata bahwa Citraresmi adalah nama seorang putri yang cantik jelita yang ingin di persunting oleh prabu hayamwuruk pada zaman kerajaan majapahit. Mungkin aku memang cantik, tetapi bola mata ku yang biru dan rambut pirangku membuyarkan kesan ayunya Indonesia asli pada diriku. Semua ini karena Ayah1 lagi-lagi Ayah!
Aku ditarik oleh Bagus, melewati orang-orang yang kalang kabut. Para TRI sibuk menyirami seluruh pemukiman kami dengan bensin dan bahan bakar lainnya. Aku masih bingung apa yang sebenarnya teradi malam ini. Tetapi aku terus saja mengikuti langkah cepat bagus yang membiarkan ribuan tetes keringatnya bergulir dan jatuh ke tanah. Hingga kami sampai pada markas TRI dan aku adalah salah satu dari warga bandung selatan yang akan diungsikan.
“TENTARA SEKUTU YANG DIBONCENGI NICA AKAN DATANG KEMARI! KITA TIDAK BOLEH MEMBIARKAN MEREKA MEMBANGUN MARKAS TERBESARNYA DIKOTA INI! Maka dari itu kalian akan kami ungsikan ke daerah pegunungan. Dan akan kami bumihanguskan kota ini. Agar mereka tak bisa berbuat apa-apa.” Kata salah satu anggota TRI disana. Aku menunduk dengan gusarnya. Orang-orang disekitarku banyak yang meraung ketakutan dan menyesalkan nasib yang mereka emban sekarang. Ayah, lagi-lagi kau dan bangsa mu ingin menghancurkan kami. Lagi-lagi kau tak pernah puas untuk memperbudak kami. Lagi-lagi kau dan para sekutu mu sudah menciptakan tangis kami lagi. Ayah, aku malu sebagai anakmu. Aku malu berada disekitar orang-orang yang membenci mu. Ayah, jika nanti kita bertatap muka lagi, aku ingin menghabisimu dan membantu membalaskan dendam mereka kepadamu..
Akhirnya kumpulan manusia-manusia serakah itu datang. Dengan wajah yang nanar dan haus akan kekayaan dunia, mereka bertempur melawan pejuang-pejuang kami disana. Bandung sudah hangus terbakar sebelum mereka datang, dan kami sudah lebih dulu di ungsikan jauh ke daerah yang senyap akan pertempuran itu. Di tempat yang lebih tinggi, aku terselamatkan dari kobaran api dan peperangan itu. Aku kini sendiri. Ibuku sudah bersayap, menjelma bagai malaikat cinta yang sudah bahagia disana tanpa ayah. Ayah sudah menjelma menjadi binatang jalang yang tak pernah puas akan kekuasaan dan kekayaan. Sementara bagus, aku tak tau ia dimana sekarang. Aku terduduk memeluk lututku di sebuah sisi tebing, di sana tampak jelas kota bandung yang membara-bara dengan api dan asap yang berjubel-jubel. asap yang mengepul dan mengelamkan langit biru. Seharusnya ini sudah pagi, tapi asap itu menemani kelamnya hatiku, dan memenuhi langit agar ia tidak membiru. Aku terus terduduk di ujung putaran jarum jam, hingga aku mendengar suara sayup-sayup berteriak. ‘Aktivis bernama Bagus sudah meninggal di bunuh oleh tentara sekutu dari inggris yang merupakan suami dari almarhumah aktivis wanita kita. Putri Juminteun.’ Seketika setelah teriakan orang itu terdengar sayup-sayup oleh ku, luka dipelipisku akibat kemarin terasa sakit, amat sakit. Tidak seperti biasa, ini sakit yang bukan main. Aku memeganginya, tiba-tiba secara perlahan luka yang kusumbat dengan kutek ibu agar darahnya tak membanjir, kini keluar dari sela-selanya darah merah segar. Seiring darah itu membanjiri wajahku, aku kembali mengeluarkan airmata pecundang ini. Langit semakin mengelabu, burung-burung menyanyikan lagu pilu, bersenandung diatas rangkaian awan dan fatamorgana di ujung sana. Bisik-bisik tebing curam mengajakku bermandikan mimpi dengan mereka, menasehatiku bahwasanya dibawah sana ada ibu yang menantiku. ‘nanti saja! Aku masih memerlukan ayahku untuk membalaskan dendam itu’ jawab ku,’tetaplah curam, dan kuharap lebih curam lagi. Biar aku bisa menikmati kedalaman dan kehancuran bersama rasa puas ku n anti dengan sakaratulmaut yang hanya sebentar. Mintalah kepada hujan agar mereka bersedia mencuramkan tebingmu. Aku pergi’ ucapku sambil melangkah menuju seorang ayah yang menjelma sebagai binatang jalang.
Ibu, ternyata aku tak mampu menahan rasa sakit ini untuk waktu yang lama. Ternyata aku tak sanggup menahan bulir-bulir air mata ini lebih lama lagi. Aku menangis untuk kepergian mu ibu. Aku menangis untuk kepergian bagus. Dan aku selalu ingin menangis untuk kehidupan ku. Aku tak menyesalinya, tetapi aku menyayangkannya. Ketika senja menjadikan aku bertahan dengan mimpi-mimpinya, ayah menjambak rambut ku dan memaksa ku menikmati kebringasannya. Ketika fajar mengajakku menari dengan padi yang menguning, ayah menyeretku masuk dan mengguyurku dengan dengan air bertubi-tubi. Dimana aku harus bersembunyi? Di celah antara pergantian fajar dan senja kah tempatnya? Ya, mungkin disana. Tetapi waktunya sesaat dan ayah menyiksaku lebih dari kata-kata sesaat. Lebih lama dari celah pergantian senja dan fajar…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar